Fans Page

Penyebab Kebanyakan Perusahaan Rintisan Bangkrut, Ini Di Antaranya

Hanya ada dua kemungkinan dari sebuah perusahaan rintisan. Pertama, sukses dan menjadi perusahaan besar bahkan mendapat status unicorn. Kemungkinan kedua, bangkrut total, alias pendirinya merugi.

Ada beberapa kasus start-up yang dimaksud hanya berjalan di tempat. Pada akhirnya, lambat laun akan terus merugi dan selanjutnya bangkrut. Ada juga beberapa kasus start-up yang bangkrut, namun berikutnya mampu bangkit, mengubah perencanaan dan berakhir dengan kesuksesan. Ada juga yang sempat sukses besar dan pendirinya menjadi miliarder, namun perlahan merugi terus menerus, lalu akhirnya bangkrut.

Baca JugaApa Saja Keuntungan Menggunakan Virtual Office?

Melihat beberapa start-up yang bangkrut, bahkan sebelum sempat sukses, ternyata rata-rata faktor penyebabnya adalah hal yang sama. Apa saja penyebab kebanyakan perusahaan rintisan menjadi bangkrut? Berikut ulasannya.

1. Perencanaan tidak matang

Start-up bermula dari sebuah ide, namun apabila tidak direncanakan dengan baik, justru akan berakhir dengan kegagalan. Beberapa start-up memilih untuk membangun sebuah rencana yang besar, terukur, dan terarah. Sedangkan beberapa start-up lainnya, justru tidak memulai dengan perencanaan yang matang.

Hasilnya adalah sebuah kegagalan. Yah, melakukan sesuatu tanpa rencana, berarti merencanakan kegagalan. Start-up tanpa rencana tersebut akan berjalan tanpa arah, tanpa solusi setiap bertemu masalah, tanpa target pasar yang jelas, dan konsepnya juga tak jelas. Apa hasilnya? Tentunya sudah bisa terjawab.

2. Banyak pengeluaran tak perlu di awal

Ketika memulai sebuah start-up, meski sudah direncanakan dengan baik, namun tidak ada yang bisa memastikan berapa penghasilan atau pendapatan yang didapatkan pasca peluncuran pertama. Karena itu, ada banyak start-up yang memilih untuk tidak begitu "jor-joran" membakar uang (money burning) di awal-awal.

Namun, ada banyak start-up yang justru terlalu banyak mengeluarkan dana yang justru tidak begitu diperlukan pada awal-awalnya. Bukan untuk membeli bahan, atau hal-hal yang menunjang produksi barang, tapi biasanya dana tersedot besar-besaran ke pengadaan kantor. Start-up yang dimaksud memilih untuk menyewa ruko, lalu membeli furnitur seperti lemari, meja, kursi, lampu, dan sebagainya. Lalu, menghabiskan pula uang untuk mendekorasi kantornya agar terlihat indah dan bergengsi.

Hal tersebut sebenarnya bisa dihindari dengan menyewa serviced office atau private office di awal. Serviced office adalah jenis kantor yang sudah dilengkapi dengan furnitur, fasilitas, dan sebagainya, namun berukuran cukup kecil, dan harganya lebih terjangkau. Hal tersebut bisa memangkas pengeluaran yang tidak perlu di awal pendirian start-up.

3. Gagal sejak peluncuran

Ketika pertama diluncurkan, biaya yang dikeluarkan cukup besar, namun hasilnya tak sepadan. Hal tersebut bisa memicu kebangkrutan instan bagi start-up yang baru mulai tersebut. Mungkin, ada diskon atau penawaran lainnya yang diberikan untuk menarik pelanggan. Namun, meski barang atau produk banyak terjual, namun tetap tidak menutupi modal.

Akhirnya, modal yang seharusnya diputar untuk produksi kedua justru tidak ada. Hasilnya, start-up tersebut menyuntikkan dana segar dengan cara berhutang. Ketika percobaan kedua kembali gagal, maka kemungkinan untuk bangkrut sangat besar.

4. Tidak melakukan analisis pasar

Ini bisa dikatakan salah satu penyebab dengan persentase paling besar. Start-up yang gagal tersebut tidak melakukan analisis pasar sebelum memulai produksi. Dengan demikian, ide yang menarik tersebut justru sebenarnya tidak dibutuhkan oleh masyarakat luas.

Hasilnya, produk yang dihasilkan justru tidak bertemu dengan pasarnya. Start-up tersebut tidak paham benar apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh pasar. Hasilnya, sudah bisa tertebak, start-up tersebut akan merugi, hingga akhirnya bangkrut.

5. Kalah dengan kompetitor

Ini salah satu yang menyebabkan banyak start-up gulung tikar. Bahkan start-up besar sekalipun akan merugi bila akhirnya kalah dengan kompetitor. Syarat untuk tidak kalah adalah memberikan penawaran yang punya nilai lebih tinggi, ketimbang kompetitor. Manfaat yang lebih tinggi, harga yang lebih rendah, serta kenyamanan bagi pelanggan. Itu hal-hal yang harus diperhatikan ketika akan bersaing di dunia bisnis.

Nah, itu tadi penyebab kebangkrutan start-up yang mesti dihindari. Apabila Anda sedang berencana untuk mendirikan start-up, tentunya hal-hal di atas menjadi poin-poin yang jangan sampai terjadi pada perusahaan rintisan milik Anda.

Apabila Anda tertarik untuk mendirikan start-up, serta menyewa serviced office untuk kantor perdana perusahaan Anda, Anda bisa melihat penawaran menarik dari Menara Office di situs resminya. Ada banyak fasilitas yang ditawarkan untuk Anda yang tentunya bisa mendukung produktivitas, serta gengsi perusahaan rintisan Anda.

loading...

Post a Comment

0 Comments